Aku Tersenyum Bukan Karena Bahagia… Tapi Karena Nggak Tahu Lagi Harus Ngapain
Aku Tersenyum Bukan Karena Bahagia… Tapi Karena Nggak Tahu Lagi Harus Ngapain
Aku sering tersenyum.
Bukan karena aku bahagia.
Tapi karena itu cara paling mudah untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi di dalam diriku.
Orang lihat aku baik-baik saja, lalu mereka percaya.
Padahal aku cuma sudah terlalu terbiasa berpura-pura kuat sampai itu terasa normal.
Ada hari-hari di mana aku bangun dan nggak benar-benar merasa “hadir”.
Aku melakukan semua hal seperti biasa…
tapi rasanya seperti aku cuma menjalankan peran yang sudah dihafalkan.
Dan yang paling aneh…
tidak ada yang benar-benar menyadari itu.
Atau mungkin mereka melihatnya, tapi menganggap itu bukan sesuatu yang penting.
Aku mulai mengerti satu hal yang agak menyakitkan:
kita bisa jatuh perlahan tanpa suara, dan dunia tetap berjalan seperti tidak ada yang berubah.
Aku pernah berharap ada seseorang yang bertanya,
“kamu beneran baik-baik saja?”
Tapi semakin lama, aku berhenti berharap.
Bukan karena aku tidak butuh siapa pun.
Tapi karena aku lelah tidak benar-benar didengar.
Jadi aku belajar hal baru:
menyimpan semuanya sendiri sampai aku lupa rasanya ingin dibantu.
Dan sekarang aku di sini,
tersenyum lagi.
Bukan karena sudah sembuh.
Tapi karena itu satu-satunya cara agar hari tetap berjalan tanpa terlalu banyak pertanyaan.
Kalau kamu membaca ini dan merasa sedikit “kena”…
mungkin kamu juga sudah terlalu lama menyembunyikan sesuatu yang seharusnya tidak kamu tanggung sendirian.
Komentar
Posting Komentar